HUT Taspen Surakarta 43 Tahun

Bersama Kita Jalin Silaturahim Dan Komunikasi Tanpa Batas

Konco TJATOET 1701

Konco Gowes Tjatoet 1701 Dari Pabelan Kartasura

Gowes Paseduluran Minggu Delanggu

Gowes Bareng Madagaskar Dan Tjatoet 1701 Jalin Silaturahmi

Ketua Madagaskar Komandan Roy

Kumpul Para Sesepuh Komunitas Onthel Di Kota Boyolali

Kartasura 14 Maret 2016

Temu Kangen Paseduluran Komunitas Onthel Kartasura Dan Solo

Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juni 2016

Sejarah Sepeda Onthel Merk TEHA

Salah satu merk sepeda buatan belanda adalah TEHA tepatnya daerah Rhenen. Teun Hartog (1887 – 1956) adalah seorang penggemar sepeda sejati, sejak 1910 Teun Hartog menyimpan sepeda tua di kantornya dan beberapa model sepeda di meja kerjanya. Berawal dari sebuah garasi tempat memperbaiki sepeda sampai tempat untuk menjual sepeda Teun Hartog terus berupaya untuk memperbaiki dan membangun sepeda, usahanya berjalan baik dan akhirnya terbentuklah perusahaan yang mampu membuat frame sepeda sendiri dengan merk TEHA (TEun HArtog)

Awal tahun 30 an, perusahaan pindah ke Zeits dari Amsterdam, pada tanggal 16 januari 1939 Teu Hartog mendaftarkan merk dagang untuk sepedanya yaitu “TEHA”. Pertumbuhan besar perusahaan sekitar tahun 1950 di Belanda dengan nama dalam Bahasa inggris “T. Hartog’s Bicycle Work”, karena pada saat itulah sepeda terjual dengan nama HARTOG. “T. Hartog’s Bicycle Work” memperkerjakan sekitar 130 orang, dan Teha menjadi pusatnya di Rhenen, dengan produksi mencapai 150.000. 

Karena masalah di pasar ekspor, terutama Kemerdekaan Indonesia perusahaan perlu berhemat, dan pindah kembali ke Zeits. 1957 perusahaan ditutup, gedung dijual dan mesin dilelang, kejadian ini setahun setelah Teun Hartog meninggal. Sumber Copas : http://bengkelst.blogspot.co.id/

Pabrik Perakitan Sepeda HARTOG - Sumber : http://oudefiets.nl

Dilain Cerita Teha Di Tuduh Pro Nazi.

Sepeda Teha asal Rhenen, Belanda ini menurut orang dulu sangat dibenci masyarakat Belanda. Pasalnya, sepeda Teha ini dituduh oleh orang Belanda berhubungan atau bersekongkol dengan Nazi, Jerman. Tuduhan ini berawal ketika tuan Teun Hartog dianggap orang Belanda merangkai sepeda untuk kepentingan Nazi dengan menggunakan teknologi Hartog sebelum 1936. 

Singkat cerita, Ketika tentara sekutu mendarat di Normandia pada 1940-an serta berusaha membebaskan Belanda dari cengkraman Jerman sehingga Nazi meledakan pabrik sepeda Hartog. Konon pabrik sepeda Teha ini yang terakhir dipereteli peralatannya untuk dibawa ke Jerman sebelum dihancurkan. Selain pabrik sepeda Hartog, pabrik sepeda Gazelle pun diluluhlantakkan oleh tentara Jerman serta membawa peralatan pabrik Gazelle ke Jerman. 

Sejarah sepeda Teha berawal ketika seorang Belanda bernama Teun Hartog pada 1910 berbisnis dengan membuka garasi di Haarlemmerstraat, Amsterdam dengan memperbaiki dan menjual sepeda. Teun Hartog adalah seorang penggemar sepeda sejati. Hal ini nampak dari kegemarannya menghiasi ruang kerja miliknya dengan gambar-gambar sepeda. Tak hanya itu, meja kerjanya pun berbentuk sepeda.

Dalam perkembangannya bisnis sepeda milik Teun Hartog kian berkembang . Usaha yang dijalankan oleh Tuen Hartog ini berjalan dengan baik. Ia pun memperluas aktivitasnya secara bertahap dengan membuat sendiri frame sepeda dan merakitnya. Sepeda Teun Hartog ini akhirnya dijual di bawah merek sendiri yaitu TEHA ketika bisnisnya maju pesat. Pada awal 1930-an, perusahaan Hartog pindah dari Amsterdam menuju Zeist. Pada 16 Januari 1939, Teun Hartog mendaftarkan nama merek sepedanya 'TEHA'. 

Masa kejayaan perusahaan Hartog ini ketika berada di Remmerden yang terletak di kawasan Rhenen. Puncak pertumbuhan perusahaan bernama T. Hartog’s Rijwielfabrieken N.V. ini terjadi sekitar 1950. Dalam perdagangan internasional nama T. Hartog’s Rijwielfabrieken N.V. lebih dikenal dengan nama T. Hartog’s Bicycle Works. Perusahaan ini telah memperkerjakan sekitar 130 orang, sedang kantor pusat Teha ada di Rhenen. Perusahaan Teha memproduksi sepeda mencapai 150.000 unit yang sebagian besar dikirim ke Indonesia. 

Karena ada permasalahan di pasar ekspor, terutama ketika adanya kemerdekaan Indonesia perusahaan Teha merasa perlu berhemat. Akhirnya Teha pindah kembali ke Zeits dan produksi sepeda terus berlanjut hingga 1956 di gedung yang baru. Satu tahun setelah kematian mendadak Teun Hartog, pada Agustus 1957 pabrik Teha dijual ke pabrik cat Ralston. Sementara mesin pabrik Teha dilelang pada 26 November 1957. Akhirnya sepeda yang dituduh anteknya Nazi itu pun tutup meninggalkan jejak sejarah perjalanan industri sepeda negeri yang pernah menjajah Indonesia itu.  Sumber Copas : Facebook - Oldbike In History

Koleksi Pribadi Sepeda Merk TeHa Milik WahYou Eka

Kamis, 09 Juni 2016

Makna Filosofi Bersepeda Yang Menginspirasi hidup

Apa arti filosofi bersepeda? Sebagai penikmat olah raga sepeda, kita akan merasa’kan sensasi tersendiri saat kita bisa mengayuh sepeda kita menyusuri jalan yang kita lalui. Disana ada sebuah kepuasan tersendiri di sana ada sebuah sensasi tersendiri saat sepeda kita bisa membawa kita ketempat tujuan kita”

Sepeda’an alias gowes selain baik untuk kesehatan baik juga untuk membuat agar otak dan pikiran kita menjadi sehat. Dan bersepeda bersama komunitas sepeda onthel “MADAGASKAR” selain untuk menjaga kebugaran tubuh juga membangun komunikasi serta silaturahmi yang menjunjung nilai paseduluran.


Filosofi Bersepeda ini sangat menginspirasi kita, dan perlu sekali untuk menular’kan pada teman, saudara serta orang orang sekitar kita.

Ada tanjakan ada turunan ...
Saat sedang menanjak, jangan’lah terlalu bernafsu mencapai puncak … atur nafas, atur tenaga, konstan’kan putaran … supaya efektif mencapai puncak … dan konsentrasi tetap ada untuk menghadapi turunan …

Saat sedang menurun … jangan’lah kaget hingga terlalu cepat menarik rem … kamu akan terjungkal dan makin terpuruk …

Ikuti alur jalan’nya … seimbang’kan rem’nya … ambil momentum putaran’nya … hingga saat kamu menanjak kamu tidak membuang tenaga …

Bersepeda itu bukan masalah jumlah kilometer … tapi lebih pada menikmati setiap kayuhan untuk mendapatkan tiap kilometer itu …

Begitu’pula kehidupan … Hidup menarik bukan karena jumlah umur, tapi bagaimana kita menikmati setiap detik untuk mendapat’kan umur tersebut …

Bersepeda juga bukan masalah sepeda atau komponen yang ada di dalam’nya … tapi bagaimana mengguna’kan sepeda dan komponen tersebut untuk mendapat’kan perjalanan yang menarik yang bisa kita nikmati, bisa kita cerita’kan, bukan hanya mengguna’kan sepeda untuk kita banggakan harga’nya …

Begitu pula kehidupan … Kehidupan bukan masalah harta yang kita dapat’kan, tapi bagaimana memaknai harga yang kita punya untuk membuat hidup kita lebih berharga secara batin, bukan hanya secara nominal …

Ada pepatah Jawa bilang, “urip kuwi golek jeneng … ojo golek jenang”

Terjemah’an bebasnya, “hidup itu cari nama bukan cari makan”, maksud’nya hidup itu harus bermanfaat (bagi orang banyak) sehingga membuat nama yang baik, bukan hidup hanya cari harta tapi tak membuat perbedaan apa - apa.

Sama hal’nya sepeda, buat apa punya sepeda kalau cerita yang kita punya hanya pada saat kita membeli’nya, bukan pada saat menaiki’nya … Bukan’kah menaiki’nya itu terlihat dan terasa lebih menarik …


Sumber Copas - thefilosofi.blogspot.com
Sumber Artikel - akuinginsukses.com

Jumat, 20 Mei 2016

Mengintip Beranda Madagaskar

Selamat Siang Warga Kartasura Dan Sekitar’nya..

Untuk menikmati rahat makan siang kalian admin akan mengajak kalian untuk mengintip beranda komunitas onthel madagaskar  kartasura. Tapi admin menghimbau pelan pelan nggih merahapi menu makan siang’nya, jangan tergesa gesa entar keselek lho.. heuheu

Baik, sekarang siap’kan air putih secukup’nya untuk jaga jaga mengelondor tenggorok’an kita yang kering, mungkin akibat  terpada membaca postingan admin.

Sudah Siap..
Okey.. Cekidooooooooooooooot..

Komunitas Sepeda onthel  mengasik’kan ini merupakan komunitas sepeda onthel yang menarik dan menyenangkan yang berada di kota kartasura - sukoharjo. Komunitas onthel ini juga merupakan paduan antara goweser sepeda dan pecinta sepeda tua, Menarik Kan Luur?
Tentu Jelas Menarik.. Garapan Cah Tosuro Jee.. heuheu

Lanjut,

Ternyata di era  modern ini masyarakat kartasura sendiri masih banyak orang  mencintai alat transportasi kuno yang menyehatkan dan berusaha untuk melestarikan’nya. Komunitas itu sendiri merupakan sekumpulan orang yang memiliki kesamaan dan bergabung dalam wadah tertentu untuk menjadikan kesamaan tersebut menjadi lebih menyenangkan dalam berbagai kegiatan. 
Naah, admin mengajak kalian semua untuk  mengintip tentang komunitas sepeda onthel madagaskar – kartasura.


Komunitas Sepeda Onthel di kartasura ini menamakan diri mereka sebagai onthelis madagaskar. Apa sich onthelis itu ??, Onthelis adalah mereka – mereka yang mencintai sepeda onthel khusus’nya sepeda onthel tua. Sepeda onthel  tua yang terdapat dalam komunitas tersebut ternyata sangat menarik dan terawat oleh karena para onthelis madagaskar sendiri sangat ulet serta mahir merawat’nya.

Baiklah,  admin akan menjelas’kan nama komunitas tersebut. Komunitas ini bernama Komunitas Sepeda Tua Madagaskar atau kepanjangan dari madagaskar : MANIA SEPEDA GAGRAK SEPUH KARTASURA . Madagaskar  sendiri beralamat di Kartasura Jl.Slamet Riyadi 109 – Waroeng Limolas, Dan yang tergabung dalam komunitas tersebut adalah mereka – mereka warga kartasura yang menggemari sepeda onthel tua. 

Bergabung dalam komunitas sepeda tua madagaskar akan memberikan kesempatan kalian untuk bertemu dengan teman – teman  yang memiliki hobi yang sama serta menjalin silaturahim dan komunikasi tanpa batas sesuai slogan madagaskar. Acara atau kegiatan yang sering digelar dalam Komunitas sepeda onthel madagaskar ialah bersepeda bersama sama tiap minggu pagi mengelilingi pedesa’an atau kota tak lain dan tak bukan yang bertujuan untuk mendekat’kan diri pada alam sekitar serta menikmati keindahan’nya.

Konco Tjatoet - Saudara Muda Madagaskar

Menarik Kan, dan terdengar sangat menyenangkan ?

Naah, maka dari itu buat kalian warga kartasura jangan sungkan sungkan bergabung dan bersepeda dengan kami “madagaskar”, monggo silahkan rawat sepeda onthel tua kalian kemudian kita bersepeda bersama menikmati alam sekitar dengan rasa peseduluran tanpa batas.


Ditulis Oleh : WahYou Eka

Rabu, 18 Mei 2016

Kisah Nyata: SAMINO Si Onthel Tua

Selamat Pagi Para Sedulur Onthel..
Mungkin ada yang bertanya tanya mengenai judul diatas, Siapa sich sebener’e SAMINO ??

Naah.. berikut admin akan menjelas’kan siapa tow sejati’nya SAMINO, Tapi jangan berajak dulu dari layar monitor kalian nggih barang 1 menit  cos cerita’nya bisa gak nyambung lho.. heuheu

Untuk pemanasan, sekarang siap’kan selembar tisu buat jaga jaga kalo kalian nangis mbaca cerita’nya, terus ambil nafas dalam dalam dan hempas’kan perlahan berulang sampe 3 kali.

Udah Siap ??

Yuuk Cerita Admin Mulai..

Pada suatu ketika ada seorang pemuda lajang berusia 20’an tahun arti’nya antara 20 – 29 tahun, yang lagi penasaran kepengan mempunyai sepeda onthel. Tapi pada saat itu si pemuda lajang itu baru berurusan dengan kantong’nya alias kantong kempes atau “ora duwe duit” coro bahasa kasar’e. Akhir’nya pemuda itu memutus’kan untuk menjual BB milik’nya dengan alasan mau dituker dengan sepeda onthel, posting iklan sana – sini mencari pembeli  ketemulah pembeli yang baik hati dan pemuda lajang itu merasa senang dalam angan’nya “dilit engkas aku numpak onthel”, Bahasa hati’nya.  Setelah BB milik’nya terjual “kala itu 350rb” pemuda lajang tersebut berburu sepeda onthel di jual beli internet, selang beberapa hari kemudian dapat’lah apa yang dikarep’ne pemuda itu sepeda onthel model lanang dan saat itu penjual’nya temen fb asal mojolaban, dibeli’lah sepeda onthel itu dengan merogoh kocek 250rb.

Hati senang dan gembira kala itu si pemuda sudah kesampai’an hajat’nya, waktu berjalan cepat si pemuda merawat sepeda onthel milik’nya dengan keuletan tingkat dewa namun rasa kecewa yang didapat sebab sepeda onthel yang didapat menurut’nya gak enak tumpak’ane. Akhir’nya dengan rasa sedu sedan pemuda itu memutuskan menjual’nya kembali sepeda onthel milik’nya, posting iklan sana – sini mencari pembeli akhir’nya ketemulah seorang remaja pelajar asal colomadu dan dijual’lah sepeda onthel milik’nya dengan harga 150rb, Kecewa dan Sedih rasa dalam hati pemuda itu menanggung rugi “mosok bakul’an kok rugi”

Dengan modal sisa uang penjualan BB milik’nya 250rb pemuda itu nekat kembali berburu sepeda onthel berharap dapat yang lebih baik dari kemarin, Waktu berjalan cepat selang seminggu kemudian ada temen yang menawarkan sepeda onthel kondisi ndongkrok milik temen kerja’nya yang bernama SAMINO  “satpam diperusahaan swasta” lalu dilihat’lah kondisi sepeda itu, Pemuda lajang sempat terhentak dan terkaget kaget sebab kondisi sepeda onthel itu sunggu memprihatin’kan (tanpa sadel, tanpa merk dan usang) belajar dari pengalaman’nya yang nekat dibeli’lah sepeda onthel itu 60rb sesuai dengan kondisi’nya. Kembali dengan keuletan’nya pemuda lajang itu membangun sepeda onthel milik’nya secara perlahan mengingat dana hanya ada turanhan 190rb dari sisa modal jual BB’nya,  Rasa senang dan gembira kembali terpancar dari wajah polos pemuda lajang yang ngidam sepeda onthel.

SAMINO sebelum

Setelah sepeda dibangun jadi’lah sepeda onthel yang gagah dan mengasik’kan, Tutur’nya.
Merasa puas dan bangga pemuda lajang, kemudian nama pemilik sepeda onthel sebelum’nya ia semat’kan pada Sepeda yang dibeli’nya “SAMINO”
Naah.. udah tahu kan SAMINO itu nama pemilik sepeda onthel yang dibeli oleh pemuda lajang tersebut kemudian nama SAMINO dipakai’lah untuk menamakan sepeda onthel milik’nya,

Jelas Kan.. heuheu

Beberapa hari kemudian rasa penasaran kembali muncul dibenak pemuda lajang itu, ia bertanya tanya apa sebener’e merk sepeda milik’nya. Tanya kesana kesini alhasil belum mendapat jawaban yang memuaskan, namun secara tidak sengaja pemuda lajang melihat status fb teman’nya yang mencerita’kan tentang sepeda onthel “Mas Endra – Madagaskar” dengan rasa canggung pemuda itu menanya’kan merk sepeda milik’nya kepada mas endra melalui inbook, kiram kirim foto ciri ciri sepeda milik’nya dijawab’lah oleh mas endra: Sepeda itu merk Batavus sebab ciri ciri slebor dan braket sama persis milik’nya, Tutur’nya.

Rasa penasaran sedikit berkurang, namun tetep menggali sumber bukan dari satu sisi saja ia mondar mandir sana sini kembali menanya’kan merk sepeda onthel’nya dengan sedikit rasa penasaran. Akhir’nya ketemulah dengan seorang tua bernama Mbah Badar “maestro kebo” asal desa gumpang, beliau menerangkan secara rinci tentang ciri ciri sepeda milik’nya, terjawab sudah teka teki merk sepeda onthel pemuda lajang itu oleh Mbah Badar sang maestro kebo Itu merk Hartog / TeHa, Ungkap’nya.

SAMINO sesudah

Rasa puas, senang dan bangga si pemuda lajang setelah berhasil mengakhiri petualangan’nya pencarian Sepeda Onthe Kebo yang menjadi idaman’nya.

Sampai sekarang sepeda itu dinamakan SAMINO untuk  mengingat sejarah nama pemilik sebelum’nya.

Demikian cerita tentang SAMINO yang menjadi penasaran para pembaca semua’nya.

Sekian Nggih Luur, dan Kalo Ketemu SAMINO dijalan mohon disapa nggih..


Kisah Nyata Ditulis Oleh : WahYou Eka

Selasa, 17 Mei 2016

Asal Usul Berdiri'nya Komunitas Sepeda Tua TJATOET 1701

Selamat Sore Semua..
Jangan Pada Bosen Yaw, Mampir Mampir Di Website Kami..

Alhamdulillah puji syukur kami panjat’kan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, dengan kekuatan Rahmat dan Barokah-NYA kita semua masih diberikan kesempatan untuk menulis dan membaca posting’an ini, Amiin Ya Robal’alamin..

Untuk kali ini admin akan mencerita’kan tentang asal usul komunitas sepeda tua saudara muda kami yaitu “Komunitas Sepeda Tua Tjatoet 1701”.

Sebelum  cerita lebih jauh admin perkenal’kan dulu sekilas pengalamatan komunitas tersebut, Komunitas Sepeda Tua Tjatoet 1701 dimaksud bermarkas di Kartasura Timur tepat’nya di Jl.Slamet Riyadi 289 – Jembangan – Pabelan. Naah.. itu sekilas pengalamatan letak posisi keberadaan komunitas tjatoet tersebut.

Asal Muasal Komunitas Sepeda Tua Tjatoet 1701 bermula dari kegiatan iseng bersepeda minggu pagi untuk menjaga kesehatan tubuh kita, itu’pun sepeda yang dipakai bukan sepeda tua namun sepeda “federal”,  Kegiatan bersepeda minggu pagi itu berjalan dari bulan Oktober  2015 tahun lalu. Waktu berjalan cepat dan disetiap kegiatan gowes kita selalu berpapasan dijalan dengan rombongan komunitas sepeda tua atau goweser sepeda kebo, dari sana’lah salah satu anggota kelompok gowes federal itu “WahYou Eka” tertarik dengan kelompok atau komunitas tersebut dan secara kebetulan diberanda facebook’nya ada sebuah posting status teman fb yang menyangkut masalah komunitas sepeda kebo.

Berikut Percakapan’nya Dibulan November 2015:


Rasa ketertarikan pada sepeda tua makin bertambah, akhir’nya WahYou Eka, Susanto dan Dody putuskan untuk membeli sepeda kebo bareng bareng. Sepeda kebo yang mereka beli itu’pun bukan sepeda kebo kelas mahal namun sepeda kebo kelas murahan harganya’pun berkisar antara 100 – 200 ribu, dari keuletan mereka bertiga membangun sepeda kebo milik’nya dengan penuh semangat lambat laun rasa ketertarikan pada onthel kebo menular kepada teman teman sekitar bahkan seorang maestro kebo asal desa gumpang “Kusmanto” ikut bergabung meramaikan suasana gowes onthel kebo.

Tepat ditanggal 17 Januari 2016 kita jadwalkan gowes perdana sepeda kebo milik kita walau tanpa nama komunitas onthel, ada’pun route’nya Pasar Delanggu – Pasaran Gawok  dipasaran gawok kita bertemu dengan para petinggi komunitas sepeda tua Madagaskar – Kartasura (pak roy & mas endra) disana kita ngobrol ngobrol tentang per’keboan / komunitas,  akhir’nya terjalin’lah komunikasi paseduluran onthel kebo kita dan madagaskar – kartasura.


20 Februari 2016 kita menjalin hubungan paseduluran dengan Madagaskar diacara Malam Ke’Akrapan di halaman gedung BPR kartasura, tentu’nya silaturahim dan perkenalan tujuan  kita kesana. Pak Roy – Mas Endra dkk menyambut kita dengan salam paseduluran “tambah konco tambah panjang umur” disana sempet ditanya apa nama komunitas kita, Jawab: sementara no name dulu belum kepikir untuk membuat nama komunitas.


Seiring berjalan’nya waktu banyak pertanyaan pertanyaan dari anggota goweser kita tetang penamaan perkumpulan yang semula tujuan kita hanya sebatas pecinta gowes sepeda tua, akhir’nya di awal bulan April 2016 melalui kopdar malam minggu tercipta’lah nama komunitas sepeda tua “TJATOET 1701”. Penamaan Tjatoet itu sendiri diambil dari filosofi alat penjepit yang berfungsi untuk memedarkan suatu masalah, sedang’kan 1701 diambil dari perjalanan gowes onthel kebo perdana kita yang bertepatan pada tanggal 17 bulan 01 (17 januari).

Dalam arti lain TJATOET kependek’an dari kepanjangan  : Tjah Tosuro Etan

Filosofi Tjatoet atau Alat Penjepit:

Memedarkan atau Mencabut permasalahan permasalahan yang menghantui dalam kehidupan kita.
Kesehatan akibat kurang olah raga, Stres akibat problem keluarga, Telmi akibat kurang pergaulan dan lain lain dimedarkan atau dicabut dengan tujuan komunitas Tjatoet yaitu: Menjalin Paseduluran Tanpa Pagar, Saling Mengisi dan Mengingat’kan serta Memberikan Motifasi dan Solusi antar anggota.

Tujuan Komunitas Sepeda Tua Tjatoet 1701:

Menjalin Hubungan Paseduluran Tanpa Pagar dan Menggerak’kan semangat mencintai warisan leluhur “sepeda onthel kebo” kepada kalayak khusus’nya putra putri kartasura.
Tjatoet 1701 sendiri hanya sebagai komunitas sepeda tua tingkat rayon atau suku daerah, bertujuan ikut serta menggerak’kan dan  mengajak para generasi generasi muda kartasura untuk mencintai / melestarikan warisan leluhur “sepeda kebo” melalui komunitas  rayon atau suku didaerah’nya masing masing yang akhir’nya menjadi satu komunitas kartasura yaitu MADAGASKAR – KARTASURA yang menjadi ikon kebanggaan warga kartasura.

Demikian sekilas asal usul komunitas sepeda tua “TJATOET 1701” saudara muda MADAGASKAR – KARTASURA


Ditulis Oleh : WahYou Eka

Rabu, 11 Mei 2016

Soekarno Dan Ibu Fatmawati Naik Sepeda Onthel Di India

photo ambil dari google

Di tahun 1950, presiden Soekarno mendapat undangan dari presiden India Rajendra Prasad untuk berkunjung ke India guna merayakan perayaan kemerdekaan bangsa India dari penjajahan Inggris. Turut serta dalam rombongan presiden republik Indonesia itu adalah Ibu Negara, Fatmawati. Rombongan ini bertolak dari Indonesia pada 23 Januari 1950. Setiba di India rombongan disambut Presiden Rajendra Prasad yang ketika itu berusia 70 tahun.

Setelah beberapa hari tinggal dan dijamu di istana kepresidenan, Bung Karno dan rombongan diundang perdana menteri India yang bernama Jawaharlal Nehru, dan diminta bermalam di rumahnya yang begitu besar dan indah. Fatma sangat mengagumi rumah Nehru yang berkonsep tradisional swadesi. Semua perabot dan perlatan rumah sang perdana menteri yang asli buatan bangsa India sendiri.

Dalam waktu singkat, Fatma sudah sangat akrab dengan Nehru. Ketika itu, usia Fatma baru 28 tahun. Nehru menyayangi Fatma bagaikan anaknya sendiri. Setiap jalan beriringan, Nehru selalu menggandeng tangan Fatma.

Nah, tibalah acara rekreasi. Salah satu objek yang wajib dikunjungi ketika kita ke India tentunya Taj Mahal. Sebuah musoleum yang begitu megah nan indah. Bangunan kuno ini terletak di Agra, Uttar Pradesh. Bangunan berarsitektur Islam India itu dibuat oleh Raja Mongol Shah Jehan pada 1627 – 1666, sebagai hadiah untuk permaisuri sang raja yang cantik jelita. Permaisuri yang ayu ini meninggal dunia pada 1631.

Iring-iringan mobil rombongan petinggi negara ini pun beranjak menuju Agra. Namun ketika dalam perjalanan ban mobil yang dinaiki Bung Karno dan Bu Fatma kempes. Alhasil, mobil yang digunakan presiden Indonesia pertama ini pun berhenti. Bung Karno pun mengajak Bu Fatma keluar dari mobil.

Selagi sopir, pengawal, ajudan sibuk mengganti roda ban mobil, Bung Karno menghampiri seorang warga India yang bersama masyarakat lain menyaksikannya di pinggir jalan. Entah apa yang disampaikan Bung Karno, yang pasti sebentar kemudian warga India itu menyerahkan stang sepeda kepada Bung Karno.

“Ayo Fat,” ajak Bung Karno.

Bu Fatma kaget diajak sang suami naik sepeda. Sambil melangkah ragu mendekati Bung Karno, Bu Fatma berkata “Apakah kita akan melanjutkan perjalanan dengan sepeda. Masih jauhkah untuk sampai di Taj Mahal.  Apa reaksi para petugas protokol kenegaraan India nantinya. Tamu negara kok boncengan sepeda,”
Belum semua pertanyaan itu terjawab, ketika Bu Fatma menempelkan pantatnya diboncengan sepeda. 

“Sudah siap, ayo kita bersepeda,” kata Bung Karno sambil mulai mengayuh sepeda, memboncengkan Fatmawati, menyusuri jalan menuju Taj Mahal di Uttar Pradesh.

Penasaran apa yang terjadi selanjutnya? Yaaa tentu saja selesai petugas mengganti roda, mobil segera menyusul Bung Karno, dan memohon agar presiden Indonesia itu naik mobil kenegaraan kembali. Bagaimana sepedanya? Yaa langsung dikembalikan ke tangan pemiliknya dengan satu catatan sejarah, “Sepeda ini pernah dinaiki Presiden Republik Indonesia, Sukarno dan istrinya, Fatmawati” 

(Oldbike In History, Sumber : wisbenbae. Foto koleksi kitlv, pada foto Bung Karno dan Bu Fatmawati berboncengan naik sepeda di Agra, Uttar Pradesh, India 1950)

Sumber : FB Oldbike In History

Jumat, 29 April 2016

Cara Merawat Sepeda Onthel Agar Tetep Kinclong

Terkadang kita merasa jengkel atau anyel ketika sepeda onthel kita banyak tumbuh bunga bunga karat besi, Sudah beberapa resep referensi temen kita coba dan akhir'nya tampilan sepeda onthel kita tetap saja masih kurang menarik / kusam.

Berikut adalah resep warisan leluhur cara merawat sepeda onthel kita agar tetap terlihat kinclong sepanjang masa.


Cara Merawat Onthel Kita Agar Tetap Terlihat Kinclong Sepanjang hari.

1. Beli amplas no 2000, sabun colek satu bungkus, semir sepatu coklat atau hitam (ukuran sedang), sikat gigi bekas, sikat sepatu.

NB: Jika onthel udah karatan total gunakan amplas no 600. 

2. Cuci onthel, oleskan sabun dengan jari kemudian amplas onthel secara mengambang (ingat saat mengamplas jangan terlalu menekan / jangan sampe warna besi putih keluar) lalu cuci dengan air mengalir.

3. Jemur onthel diterik matahari sampe sore.

4. Kalau udah kering / besi onthel menjadi panas oleskan semir dengan menggunakan sikat gigi atau dioleskan dengan jari hingga merata.

NB: Jika perlu, panas'kan semir dengan api lilin, kalo semir udah mencair kemudian kuas'kan pada dalangan onthel hingga merata.

5. Biarkan disinar matahari dan periksa kembali hasil semiran, bila kurang rata olesi semir kembali...

6. Bila sudah sore masuk'kan onthel kerumah dulu.

7. Besok pagi'nya (kondisi besi dingin) onthel disikat dengan sikat sepatu atau kain kaos yang halus, lalu liat hasilnya.

8. Bila dirasa kurang matep / sempurna ulangi lagi langkan no. 4 diatas.

9. NB: Sebaik'nya onthel dipretelin semua agar mendapat hasil semiran lebih rata disetiap sambungan / mur-baut yang tertutup.

10. Monggo Dicoba Cuuk

Ditulis Oleh : WahYou Eka